Lebih Dari 'Maaf'


Coba kalian pecahkan sebuah piring kaca. Setelah pecahkan, mintalah maaf pada piring yang sudah pecah. Lalu, apakah piring itu akan kembali seperti semula sebelum akhirnya menjadi pecahan-pecahan kecil? Tidak kan?

Satu perumpamaan dari ketidakefektifan kata 'maaf' yang klasik dan sudah melegenda. Sudah sering sekali dibuat meme di mana-mana, bahkan terakhir yang paling lucu adalah ketika piring kaca diubah dengan piring plastik anti pecah. haha

Untuk tulisan kali ini, aku ingin membahas tentang 'maaf' tersebut dalam sudut pandang tidak profesionalku dan bagaimana aku menghadapi semua hal yang berhubungan dengan pengalamanku bersama kata 'maaf'.

(WARNING! : Jika anda merasa ragu untuk membaca ini karena lemahnya keyakinan yang anda miliki, maka jangan diteruskan.)

haha

Beberapa hari lalu, saat sedang dalam perjalanan untuk pulang, aku mendapatkan sebuah ilham yang tidak terduga di dalam kepalaku, tentang 'maaf'. Aku berpikir, adakah yang lebih hebat dari kata 'maaf'? Karena selama ini yang aku alami, kenyataan tidak semua masalah bisa selesai hanya ketika kita memuntahkan kata 'maaf'. (ya iya lah~)

Jawaban pertanyaan di atas adalah ADA. Dah, itu aja.

Sekian dulu untuk postingan kali ini........


Baiklah, becanda, itu belum selesai. Apakan yang lebih dari sekedar kata 'maaf'? Menurutku ada 2 hal yang bisa dilakukan jika meminta maaf saja tidak cukup atau bisa dikatakan ini tindakan lanjutan yang lebih dari sekedar kata maaf.

Pertama adalah dengan berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Ini adalah cara yang paling mudah, karena hanya melibatkan kemampuan lisan. Kalau hanya bicara, siapa sih yang tidak bisa?

Kenyataannya cara ini juga tidak sepenuhnya mudah. Kenapa? Karena selain berkata, cara ini juga memaksa anda untuk melakukan sebuah janji yang mungkin tidak bisa anda tepati. Kenapa lagi? Karena, yah, yang namanya manusia kan tidak bisa jauh kesalahan. Tapi bagi kalian yang yakin tidak akan terjerumus di kesalahan yang sama, maka cara ini bisa dibilang adalah solusi. Namun jika tidak bisa dan akhirnya membuat anda melanggar janji yang sudah anda buat, maka cara ini bisa dibilang menjadi bencana.

Kedua, adalah dengan cara mengganti apa yang sudah anda rusakkan. Kata maaf tentunya kan tidak jauh dari kesalahan yang sudah anda lakukan kan? Dan biasanya kesalahan (khususnya yang besar) itu sifatnya merusak (biasanya parah).

Misalnya ya seperti memecahkan piring di atas, berarti anda harus mengganti piring yang sudah anda pecahkan. Yah, bisa dibilang ini adalah cara yang cukup mahal, karena yang harus gantikan setidaknya sebanding atau lebih. Bayangkan jika kalian merusakkan sebuah guci antik berumur 100 tahun, bagaimana coba menggantinya?

Sekarang menuju masalah yang cukup merepotkan, bagaimana jika yang dirusakkan adalah perasaan seseorang? Dalam hal ini kan 'sesuatu' yang rusak itu bentuknya abstrak alias tidak kasatmata. Hmm, ini nih yang paling sering terjadi mungkin dalam kehidupan modern sekarang.

Untuk masalah ini, solusinya menurutku sih mengganti apa yang bisa terlihat karena sesungguhnya mungkin hanya itu hal terbaik yang bisa kita lakukan. Apa itu? Ya, misalnya anda membuat seseorang banyak menangis, maka anda juga harus banyak membuatnya bahagia dan tertawa. Hal terbaik yang bisa dilakukan. Masalah kesehatan perasaan memang paling merepotkan, selain karena tidak nampak mata, kesehatan perasaan ini tidak ditanggung oleh BPJS.

Baiklah, sekian. Hanya 2 hal itu saja yang aku tahu bisa melebihi kata 'maaf', entah kalian ada memiliki cara yang lebih ampuh atau bagaimana, mungkin bisa berbagi di sini.

2 hal di atas sebenarnya hanyalah tindakan sederhana, namun kenyataan tidak semudah kelihatannya. Ini masalahnya, terkadang walaupun sudah menyadari sesuatu, manusia juga harus memiliki kekuatan dan motivasi untuk merespon sesuatu yang 'disadari' itu.

Semoga bermanfaat. :)
Cheerio!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar