The Wedding - 18 Agustus 2019



Yo yo yo gaes what up yo, kembali lagi dengan saya Jess no Limit (piiiiiip). Haha Becanda...

Halo semua.... Ah, akhirnya aku bisa menulis lagi, setelah lama sekali vacum. Aku baru saja kembali dari liburan panjangku. Dan aku merasa sudah saatnya sekarang aku kembali ke dunia nyata dan menyimpan kisah indah liburan. Sebenarnya bukan liburan biasa sih, tapi liburan bulan madu. Yap, aku baru saja melangsungkan pernikahan, itu yang ingin aku kabarkan kepada kalian semua.

Aku bahkan tidak menyangka kalau aku sudah menikah. Waktu berlalu tanpa terasa, dan aku sudah sampai pada tahap ini dalam hidup. Saat mengawali langkah baruku sebagai manusia, menjadi seorang suami. Bukan perjalanan yang mudah, tapi indah untuk dinikmati. Dan acara pernikahan berjalan dengan lancar meskipun dihiasi dengan hujan di akhir acara.


Benar-benar acara yang menyenangkan dan menghabiskan waktu dari pagi sekali sampai malam sekali. Aku punya waktu beberapa jam untuk istirahat bersama istriku, dan banyak waktu digunakan untuk bersama keluarga dan tentu keluarga baru untuk kami berdua. Menjalani pernikahan benar-benar bukan cuma tentang aku dan istriku, tapi juga tentang keluarga kami dan bagaimana kami membuat semua orang senang. Bahkan sampai acara selesai kami saling bertanya, kalau kami tidak merasakan kalau pernikahan ini adalah tentang kami, tapi tentang keluarga kami. Entah bagaimana orang-orang merayakan dan bahagia, di sisi lain kami mendapatkan hari yang begitu melelahkan dan melakukan pengeluaran yang di luar dari kebiasaan. Namun pada akhirnya bisa membangun relasi yang baik dengan keluarga baru bisa menjadi modal yang baik untuk masa depan, karena nasib siapa yang tau, mungkin saja di masa depan akan tertolong dengan kehadiran mereka.



Beralih dari rekapan sepanjang acara, aku kali ini akan menulis sedikit tentang pernikahanku, khususnya tentang istriku, Luthfiyatul Halimah, wanita yang sudah 7 tahun menemaniku sejak SMA. Meski dengan perjalanan yang begitu berliku; naik-turun, berpisah-bertemu, pahit-manis, baik-buruk, dan masih banyak warna lain menghiasi perjalanan kami sebelum akhirnya sampai ke pelaminan. Aku tidak mengatakan ini perjalanan yang mudah sih, meskipun awalnya aku berpikir ini akan mudah. Tapi Allah nampaknya tidak mau melihat hidupku begitu datar, jadi disuguhkanlah beberapa cobaan untukku, menguji cinta dan komitmenku bersama dia. Dan alhamdulillah, dengan selamat sentosa mengantarkan kami ke jenjang selanjutnya.

Meskipun dia bukanlah wanita paling sempurna di dunia, namun dia adalah wanita yang menurutku bisa menghadapi aku dan semua ke-absurb-anku. Meski dengan semua keburukan yang aku sudah tunjukkan kepadanya, dia masih memilih untuk bertahan denganku, masih menggenggam erat tanganku dikala aku jatuh, masih mengusap air mataku ketika aku sedih, dan masih setia menemaniku dikala hatiku tertutup untuknya. Dibalik ketidaksempurnaannya, dia selalu berusaha untuk memperbaiki dirinya untukku, mengasah setiap kelebihan yang dia punya, berusaha memantaskan diri untuk bisa selalu berada di sampingku. Aku bahkan tidak yakin bisa melakukan hal yang sama untuknya, namun dia tetap gigih untukku, jadi tidak ada alasan untukku tidak gigih untuknya. Semua dedikasinya untukku benar-benar menggugah hatiku, yang awalnya begitu keras untuknya, menjadi begitu terpesona dan jatuh cinta.

Memutar kembali waktu, awal pertemuan kami mungkin bukanlah sesuatu yang baik. Aku bertemu dengannya kala itu ketika dia sedang mengalami konfik hebat dengan sahabatnya yang kebetulan waktu itu adalah pacar dari sahabat dekatku. Kemudian aku yang dirasa semua orang adalah orang yang bijaksana, ikut terseret dalam masalah mereka dan berusaha untuk jadi penengah. Semenjak saat itu pun kami sering bertukar pikiran tentang masalah ini dan menjadi semakin dekat, saling mengenal satu sama lain lebih intens. Kesan pertama yang aku dapat darinya adalah dia benar-benar wanita yang tidak biasa, karena memiliki pemikiran yang tidak seperti wanita pada umumnya, bagiku itu menjadikannya wanita yang istimewa.

Meskipun begitu, kisah kami pada masa itu tidaklah semulus kelihatannya. Banyak perkelahian yang terjadi, tentu saja wajar mengingat kami dua manusia dengan background kehidupan dan pemikiran yang berbeda. Namun setiap perkelahian menjadikan kami lebih kuat dan dewasa menghadapi masalah, jadi mendapatkan cukup banyak pelajaran tentang suatu hubungan. Bahkan aku pernah sampai meninggalkannya sampai 1 tahun karena suatu masalah. Namun yah, pada akhirnya kami mendapatkan pelajaran yang seharusnya kami dapatkan dari perpisahan.

Balikan setelah perpisahan 1 tahun itulah titik di mana kami kembali menata hati dari awal lagi, membicarakan apa saja yang salah dan berusaha untuk mengatasinya. Meskipun ada beberapa masalah yang harus direlakan dan diterima sebagai bentuk ketidaksempurnaan manusia. Perpusahan benar-benar memberi banyak arti dalam hubungan kami, membuat kami sadar akan pentingnya menghargai dan pentingnya waktu bersama.



Pada 2016, aku menemui orangtuanya untuk pertama kalinya. Karena secara teknis kami tidak pacaran, itulah sebabnya aku tidak sering apel ke rumah dia, meski hubungan kami sudah dari tahun 2012. Dia berasal dari keluarga yang tidak percaya dengan pacaran dan nilai nilai yang ada di dalamnya, pokoknya pacaran itu mutlak isinya keburukan (bagi mereka). Walaupun ini bukan pertama kalinya aku menemui orangtua dari kekasihku, tapi bertemu dengan orangtuanya benar-benar memberikan sensasi tersendiri, mengingat juga orangtuanya berasal dari keluarga agamis, berbeda dengan keluargaku yang lebih liberal. Tentu, hal pertama yang ditanyakan kepadaku adalah sholatku, yang alhamdulillah aman karena aku selalu menjaga sholatku (meskipun sering tidak tepat waktu), kemudian adalah hapalan alquranku yang tentu merupakan kekurangan fatal untukku. Namun pada akhirnya orangtuanya mengampuniku tentang masalah hapalan alquran itu.



Setelah pertemuan itu kemudian memikirkan tentang pernikahan dan semua tetek bengek yang mengikutinya. Berhubung dia adalah anak pertama, jadi orangtuanya juga masih belum begitu paham perihal pernikahan (misalnya total biaya dan sebagainya). Nego yang cukup alot dan panjang, namun akhirnya dicapailah suatu kesepakatan biaya yang akhirnya aku diharuskan untuk menabung lagi sekalian menunggu dia lulus kuliah. Proses menabungku ini juga yang menjadi sebuah kisah yang seru, karena tidak mudah, terlebih untuk seorang fresh graduate yang pasif sepertiku. Bahkan kala itu, aku sempat menganggur sampai 6 bulan lamanya sampai pada awal tahun 2017 aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, dan yah sebelumnya aku sudah pernah menjalani pekerjaan yang tidak layak dan diperlakukan seperti romusha, perbudakan di era modern. Tahun 2017 itu pula aku baru wisuda karena keterlambatan skripsi dan si dia lulus setahun setelahnya.



Terlepas dari masalah biaya yang begitu besar di waktu yang singkat, aku yang masih begitu bau kencur dan noob ini harus disuguhi dengan beberapa cobaan baru lagi, seperti orangtuanya yang mulai ragu dengan kompetensiku dan background kehidupanku, kemudian orangtuanya juga mulai mencarikan lelaki yang sekiranya satu spesies dengan keluarga mereka dan berniat menjodohkannya dengan si dia. Alhamdulillah itu hanya menjadi bumbu-bumbu tanpa rasa yang berarti untuk goyahkan rencana pernikahan kami.

Hingga pada tanggal 18 Agustus 2019, BOOM! SAAAAAAAAAAAAAAAAH! Alhamdulillah. Dengan pengucapan ijab qabul yang harus berulang sampai 3 kali karena kesalahanku dan kesalahan teknis. Momen saat itu, jantungku benar-benar seolah berhenti berdetak untuk sesaat. Saat aku menjemputnya di dalam kamar pengantin benar-benar rasanya seperti mimpi saja, sulit dipercaya.



Ini sudah memasuki minggu ke-3 pernikahan kami. Sampai sekarang pun kami sering saling menatap dan rasanya masih belum percaya kalau kami sekarang sudah menjadi pasangan suami istri. Banyak kisah masa lalu kami yang selalu terulang dipembicaraan kami, menjadi kenangan yang manis pada akhirnya dan memberikan pelajaran yang berharga untuk dimaknai.

Demikian kisah singkat tentang kami dan pernikahan kami. Mungkin kalian bisa mengambil pelajarannya kali ya (kalau ada), dan kalaupun tidak, aku ucapkan terima kasih karena sudah membaca. Aku harap kalian bisa mendoakan kami semoga bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. :)

Cheerio!

1 komentar:

Gambaran Untuk Mengenal Diri Sendiri

Baru-baru ini teman-teman di tempat kerja sedang banyak yang mencoba untuk tes di sebuah website yang masih asing untukku, uji untuk meng...