Jelajah Mahakam; Samarinda - Tenggarong (Kapal Pesut Kita)



Hari ini aku ingin menuliskan sedikit cerita tentang pengalamanku menjelajahi Sungai Mahakam menggunakan kapal Pesut Kita, yang merupakan salah satu dari kapal wisata mengarungi sungai Mahakam. Rute perjalanannya adalah dari pelabuhan di Samarinda Seberang, kemudian ke Pulau Kumala, ke tepian Musium Tenggarong dan kembali ke Samarinda. Kalau biasa berangkatnya dari Pelabuhan Pasar Pagi, tapi berhubung aku tinggal tidak jauh dari sungai, jadi aku memilih langsung dari pelabuhan dekat rumah saja, kebetulan juga kami rombongan.

Setelah sekian lama akhirnya bisa naik kapal lagi, karena aku sudah lama tidak menyentuh kendaraan laut. Sedangkan kalau dulu, saat masih tinggal di Tanjung Mangkaliat, setiap pulang kampung aku pasti menggunakan kapal. Memang pada masa itu, akses termudah ya menggunakan kapal, karena jalur darat dan udara masih begitu memprihatinkan. Jadi punya kesempatan untuk naik kapal lagi, kesan tersendiri sih. Kalau biasanya kapal wisata yang aku lihat, jalurnya adalah mengitari Jembatan Mahkota 2, tapi untuk kali ini jalurnya yang paling jauh nih, sampai Tenggarong. Sering sekali melihat kapal wisata lalu lalang dan berpikir kapan punya waktu untuk naik, eh akhirnya kesampaian juga. Alhamdulillah.


Aku berpikir aku akan mabuk setelah lama tidak naik kapal, dan ternyata tidak, malah istriku yang teler sendiri mabuk tidak karuan. Oh iya, aku menaiki kapal ini bersama ibu dan istriku, jadi kami bertiga. Padahal ingin mengajak lebih banyak anggota keluarga yang lain, tapi yang lain pada takut dan mabuk laut semua. Kalau aku berpikirnya ya, kapan lagi kan punya kesempatan ini? Jadi ya aku ambil saja.


Saat sudah di atas kapal, cukup meriah di lantai bawah karena dilengkapi dengan panggung hiburan lengkap dengan elektone. Aku pun hampir selama di kapal tidak berinteraksi dengan ibuku berhubung dia asik sendiri karokean di panggung tersebut. Aku lebih banyak menghabiskan waktu selama di kapal di lantai atas sih, soalnya lebih merasakan sepoi angin selama perjalanan, berhubung hari itu cuaca begitu cerah sekali.

Selama perjalanan aku disajikan beberapa pemandangan yang bagiku masih begitu asing. Karena selama ini biasanya aku ke Tenggarong selalu melalui jalur darat, dan biasanya tidak sampai 1 jam. Menggunakan kapal wisata, ke Tenggarong membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Melihat semuanya dari sudut sungai, ada daerah yang masih nampak begitu asing dan perawan, ada juga pemandangan bangunan-bangunan yang aku kenal.

Menjelajahi sungai Mahakam, aku rasa idealnya memang melihat ikan Pesut ya, yah aku pun berpikir begitu, tapi untuk jalur Samarinda sampai Tenggarong nampaknya hal tersebut kecil kemungkinannya. Harus lebih ke hulu lagi untuk bisa bertemu dengan Pesut. Jadi, menggantikan Pesut, selama perjalanan kami ditemani dengan burung-burung camar yang banyak menghiasi penggiran sungai, begitu cantik dengan bulu putihnya.

Sampai di Tenggarong, kami langsung berlabuh di Pulau Kumala. Kembali turun di pelabuhan seperti dulu, jadi rindu masa SMA dulu, kalau mau ke pulau Kumala harus melalui jalur air. Tapi sekarang sudah dibuat sebuah jembatan pejalan kaki, akses menuju pulau Kumala pun jadi lebih mudah. Membuat pelabuhan jadi tidak terawat berhubung jarang sekali digunakan. Tidak banyak hal yang aku lakukan selama di pulau Kumala, berhubung cuaca lagi panas-panasnya. Jadi bisa menikmati siang sambil ngadem di bawah pohon rimbun rasanya sudah nikmat sekali. Pulau Kumala tidak seramai biasanya, mungkin karena ini akhir bulan juga sih (belum gajian)

Setelah dari Pulau Kumala, pemberhentian berikutnya adalah pelabuhan di depan Musium Tenggarong. Di sini aku juga tidak berhenti, karena aku bukan orang yang begitu excited dengan musium. Aku lebih memilih untuk makan siang di atas kapal. Berasa makan di restoran atas air gitu. Akan lengkap kalau aku bisa tidur siang juga padahal, tapi berhubung tempatnya tidak memungkinkan, jadi aku tahan kantukku untuk menikmati sepoi angin dan pemandangan sungai saja.

Selesai makan siang dan sholat, kapal kembali berjalan dan saatnya untuk kembali ke Samarinda. Oh iya, perjalanan dari Samarinda itu berangkat pada pukul 8, dan kemudian sampai di Tenggarong jam 11, dan sampai di Samarinda lagi sekitar pukul 4 sore. Aku bersyukur tidak sampai malam sih. Tapi sensasinya juga mungkin beda kalau melakukan perjalanan kapal di malam hari. Kapal wisata biasanya juga sampai malam sih, karena untuk melihat pemandangan lampu hias di Jembatan Mahkota 2. Mungkin perjalanan kapal wisata berikutnya aku punya kesempatan untuk sampai di Mahkota 2.

Kesan menaiki kapal wisata ini, aku merasa salut sih sama staf kapalnya, karena begitu gesit. Kebersihan selalu terjaga, dan disedikan banyak tempat sampah, sehingga penumpang kapal terhindar untuk membuang sampahnya di sungai Mahakam tercinta. Aku juga terkejut dengan toiletnya yang ternyata toiler duduk dan air bersih tersedia lancar. Jadi nyaman sekali saat di atas kapal, menyenangkan dan berkesan.

Aku berharap kalian yang membaca ini juga bisa mencoba sendiri untuk merasakan menaiki kapal wisata ini. Atau mungkin kamu sudah ada yang pernah menaiki kapal wisata? Bisa berbagi pengalaman kalian di kolom komentar ya. Dari aku segitu dulu. Sampai jumpa di petualangan kami berikutnya. Cheerio!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Mahakam; Samarinda - Tenggarong (Kapal Pesut Kita)

Hari ini aku ingin menuliskan sedikit cerita tentang pengalamanku menjelajahi Sungai Mahakam menggunakan kapal Pesut Kita, yang merupak...