Aku dan Kacamata-ku

Selamat berakhir pekan semua, siapa saja, kamu, iya kamu (nunjuk-nunjuk orang yang lewat). Bagaimana minggu kalian semua? Kalau mingguku sih melelahkan, tumben.

Hari ini aku ingin bercerita tentang salah satu aksesoris terpenting di dalam hidupku, kacamata. Bisa dikatakan, kacamataku adalah separuh dari mataku... em, kalimatnya gak enak banget, ralat.. kacamata adalah jiwa dari mataku. Jiwa? Hmm.. ralat lagi. Kacatama adalah lensa tipis untuk mata guna menormalkan dan mempertajam penglihatan (ada yang berangka dan ada yang tidak); baiklah, itu artinya di KBBI.

Intinya adalah kacamata dewasa ini menjadi salah satu bagian terpenting dari mataku. Mataku tanpa kacamata itu bagaikan melihat dari dalam air yang keruh, semua bentuk yang seharusnya berbentuk, jadi blur ketika aku lihat. Bukan hal menyenangkan menghabiskan hari tanpa kacamata, aku mungkin tidak akan mengenali seorang teman yang lewat tepat di sebelahku, sama yang lewat di belakangku juga, aku tidak bisa melihat mereka. Minus 3 sudah tergolong 'cukup' parah.

Sebelumnya, aku mau membuka sejarah dulu, bagaimana akhirnya penglihatanku harus terjebak di balik lensa. Uhuk uhuk, uhuuuk uhuuk uhuk. Ehem. Batuk pemirsa.


Kelas 4 semester 2, adalah saat pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolahku yang baru di Samarinda. Seperti yang bisa diketahui, bahwa tahun ketika aku masih kelas 4 SD (kira-kira sekitar tahun 2004) ialah masa-masa di mana sedang banyaknya demam Play Station menyebar di kalangan anak-anak, remaja, dewasa maupun (mungkin juga) lansia dan paruh baya, tidak terkecuali aku yang banyak menghabiskan masa kecil di pedesaan dan jauh dari teknologi semacam itu, akhirnya pun terkena demamnya juga dan mulai tergila-gila memainkannya (megang stick sambil julurkan lidah).

Hampir tidak pernah absen, aku biasanya menghabiskan hari mingguku untuk bertamu ke rental PS, varokah banget deh pokoknya bertamu tiap minggu. Tidak tanggung-tanggung, sekali main biasanya aku langsung 3 jam, dengan omset pendapatan tiap harinya mencapai jutaan rupiah.. eh, salah forum. Iya, aku biasanya main 3 jam. Kadang sendiri, kadang juga berdua, bertiga, tergantung kondisi keuangan teman-teman (ngomong dengan suara disamarkan).

Tapi cerita kali ini bukan tentang aku dan PS, jadi akan aku SKIP. Kemudian dengan lantang bisa aku katakan bahwa, "PS telah merusak mataku". Jadi teringat dengan kata om-ku dulu waktu pertama kali aku datang ke kota, "Jangan mainan PS, Ndi. Tau gak itu singkatannya apa? Play Setan". Awalnya aku hanya memandang heran sambil garuk-garuk kepala ketika om-ku mengatakan itu, tapi sekarang aku paham maksud dari perkataannya. Jadi jika ada yang bertanya padaku, "Ndi, kenapa matamu bisa rabun?", aku jawab aja, "Kebanyakan main PS". 3 kata singkat, bahkan biasanya aku tidak butuh repot menjelaskan.

Pada kenyataan membutuhkan lebih dari sekedar 'bermain PS' untuk bisa merusak mata. Kita semua tentunya sudah mempelajari ini semasa SMA (kalau kalian masih ingat sih wahai yang pernah SMA). Faktor-faktor lain seperti pencahayaan, kebiasaan (habit) dan juga vitamin bicara tentang masalah ini.

Dan.... akhirnya jadilah aku sekarang. Berkacamata minus 3. Minus pertamaku adalah minus 1,25 kalau tidak salah, itu waktu kelas 5 SD, kemudian naik menjadi 2,75 (saat SMP) dan akhirnya sekarang bertahan di angka 3 (saat SMA)—senang mengetahuinya.

Sekarang aku sudah berganti kacamata sebanyak 3 kali. Kacamata pertamaku adalah kacamata warisan dari kakakku yang pertama, orang yang mempelopori budaya berkacamata di dalam keluargaku. Kemudian ganti ketika aku merusakkan kacamataku saat ketiduran menyaksikan piala dunia. Terakhir adalah saat kelas 2 SMA ketika kacamata keduaku patah.

kacamata ketiga — kacamata kedua

Kacamata ketigaku alhamdulillah masih bertahan sampai sekarang, meskipun lensanya sudah mulai pecah, tapi setidaknya masih bisa membantuku  melihat. Aku pun masih menggunakan kacamataku yang kedua hingga sekarang untuk kebutuhan di dalam rumah. Yang sering menjadi masalahku saat memakai kacamata adalah lupa melepaskannya ketika ketiduran di depan TV. Aku pun menjadikan kacamata keduaku menjadi kacamata anti patah.


Seperti yang bisa dilihat, itu adalah kacamata keduaku yang anti pecah. Aku menjadikan beberapa bagian rawan patahnya menjadi bagian lentur dengan menggunakan lakban. Jadi sudah biasa aku tindis ketika ketiduran, kacanya pun sudah sering lepas, kacamata paling kebal yang pernah aku miliki.

Yap, itu dia kisah kacamataku. Inspirasiku untuk menulis tulisan ini adalah saat aku teringat, bahwa yang paling banyak menemaniku selama ini daripada aksesoris lain adalah kacamataku. Banyak kenangan yang aku lihat dibalik lensa tipis beningku itu.

Dulu waktu masih kecil, aku berpikir kalau berkacamata sepertinya akan asik, dan sekarang................... aku masih berpikir begitu. Meskipun kacamata pada akhirnya menyulitkanku untuk melakukan kegiatan yang... yah, membutuhkan banyak bergerak dan aku akhirnya tidak bisa loncat-loncat lagi kaya dulu, tapi aku bersyukur bisa memakainya. Selain membantuku untuk melihat, kacamata juga membantuku untuk menyembunyikan emosiku, khususnya yang ditunjukkan oleh mata.

Mungkin memang sudah jalannya dan mungkin aku memang tidak cocok menjadi seseorang yang bukan diriku. Hidup cuma sekali, lantas mengapa dihabiskan untuk menjadi orang lain. Iya kan?

Itu terakhir dariku.
Hooaaaamss... sudah larut. Sebaiknya aku tidur.
Zzzzz...........................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar