Tentang Impian di Masa Depan


Halo, semuanya. Sudah lama sekali aku tidak menulis. Di siang hari yang cerah ini pun aku memiliki kesempatan kembali mengisi lembaran baru pada blog usang ini, jadi aku manfaatkan saja kesempatannya.

Akhir-akhir ini aku begitu sibuk dengan penelitianku. Selain menguras banyak waktuku, penelitian juga banya menguras paket internetku, sampai aku tidak memiliki cukup kuota atau bahkan membeli kuota baru untuk menulis di blog lagi. Padahal cukup banyak yang aku lewatkan dan banyak pula yang ingin aku download seperti biasanya. Untung saja sih di dekat lab ada wifi yang bisa aku manfaatkan, tapi tempatnya kurang nyaman karena banyak sekali dilalui orang, tidak cocok untuk seorang introvert sepertiku.

Aku menulis postingan di Minggu siang, dan baru bisa mempostingnya Senin ini menggunakan wifi, menyedihkankan memang keadaan bulan ini. Apanya yang bulan penuh cinta, itu semua hanya mitos. haha


Merenungi sedikit tentang waktu yang berlalu begitu saja meninggalkan masa mudaku, tanpa terasa sekarang aku pun sudah memasuki yang mungkin akan menjadi tahap terakhir kuliahku, saat-saat yang cukup krusial dan menentukan masa depanku kelak, maksudnya mampukah aku lulus tahun ini atau tidak, aku hanya berharap kepada yang terbaik untukku. Beberapa teman sudah mulai menanyakan tentang rencana masa depanku, meskipun aku cukup terganggu dengan itu tapi pada nyatanya aku memang harus bisa menjawabnya walau aku tidak tahu bagaimana masa depanku sendiri akan seperti apa, pikiranku nampaknya belum sejauh itu. Aku memag payah ya..

Pertanyaan seperti, "Ndi, kamu nanti kerja di mana?" atau "Ndi, kapan kamu nikah?" dan masih banyak pertanyaan mengganggu lainnya, aku hanya bisa menjawab semampunya. Kalau dulu, jika ditanya "Ndi, kamu mau kerja apa?" aku akan dengan cepat menjawab "Mau jadi tukang sapu jalan". Serius. Entah mengapa aku tidak bisa melihat impian yang lebih besar ketimbang jadi tukang sapu jalan, mungkin aku akan menjadi tukang sapu jalan tersukses se-Indonesia, itu tidak terlalu buruk kan. Saat aku sekolah dulu juga sering melihat tukang sapu jalan dan berpikir, "mereka keren". Maksudku, tukang sapu jalan itu pekerjaan mulia karena kebersihan kan sebagian dari iman. Lagi pula aku selalu membayangkan kalau masa depanku itu dipenuhi dengan hal-hal sederhana, misalnya tidak terlalu kaya, rumah kecil yang sangat biasa tapi mempunyai anak yang cerdas luar biasa, impianku sesederhana itu sebenarnya. Dan saat ada yang bertanya "kapan mau nikah?" aku akan cepat menjawab kalau aku tidak tertarik untuk menikah, aku lebih tertarik untuk mengadopsi seorang anak dari panti asuhan dan menjadi seorang single parent.

Namun seiring waktu berjalan, keinginanku untuk menjadi seorang penyapu jalan kemudian berubah, khususnya setelah melihat keadaan Indonesia yang kesulitan dalam bahan pangan dan juga karena terlalu banyak memainkan game Harvest Moon. Tepatnya ini terjadi saat aku masih duduk di bangku SMA, saat ada yang bertanya "Kamu nanti mau kerja apa, Ndi?", dengan keren aku akan menjawab, "Aku pengen menjadi petani". Statement-ku itu ternyata menjadi sebuah kehebohan di hidupku, karena itu cukup mengejutkan, bahkan saat kuliah teman-teman pada bingung kenapa aku malah gak masuk fakultas pertanian. Dampak pernyataanku itu juga sampai kepada keluargaku yang berada jauh di Jawa sana, bahkan nenekku memintaku untuk merawat kebun di belakang rumahnya.

Jadi petani terus punya istri seger begini, abang rela, de~ XD

Jika saat masih taman kanak-kanak dan aku mengatakan semua impian anehku itu, mungkin aku akan diomelin habis-habisan sama orangtuaku. Dan saat masih taman kanal-kanak dulu saat ditanya, "Entar kalo gede mau jadi apa, Ndi?", aku pun dengan bego akan langsung menjawab, "Pengen jadi pilot". Padahal aku sadar saat itu bahkan aku masih takut dengan ketinggian. Benar-benar tidak mempunyai masa depan yang menjanjikan.

Tapi sekarang aku sadar kalau pada akhirnya aku harus mencapai yang lebih besar daripada itu semua. Aku sadar kalau hidup terkadang bukan hanya tentang kita, tapi juga bagaimana kita menjaga orang lain khususnya orang yang kita cintai. Jika hanya menjadi orang yang sederhana, lalu bagaimana mau menyelamatkan orang lain sedangkan diri sendiri selalu kesulitan. Itu menjadi motivasiku untuk selalu berkembang juga sekarang. Aku mendapatkan ide ini dari sebuah film yang sekarang aku sudah lupa film apa itu, tapi yang masih aku ingat adalah pelajaran yang aku dapatkan dari film tersebut. Intinya untuk bisa selamatkan orang lain, minimal kita harus sedikit lebih di atas ketimbang orang yang ingin kita selamatkan. Seperti saat ada yang tenggelam, kalau mau menyelamatkannya kan berarti kita harus bisa berenang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar