Tinggi Badan


Aku menulis ini setelah kepalaku sangkut di pintu samping rumahku. Perkenalkan, aku Andi, pemilik blog ini (tentu saja). Aku memiliki tubuh dengan tinggi 172 cm dan berat badan ideal yang tidak disebutkan, kulitku berwarna sawo matang.. bla bla, baiklah, aku berhenti sebelum tulisan ini berubah menjadi fantasi remaja.

Bercerita sedikit tentang tinggi badanku, semasa kecil aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan tubuh tinggi seperti sekarang karena waktu kecil, aku kecil (ya iya lah). Maksudku tinggiku bahkan tidak lebih tinggi dari teman sekelasku ketika aku mulai tinggal di kota. Tapi saat di desa, bahkan tubuh kecilku masih lebih tinggi ketimbang teman-temanku, aneh. Semuanya berubah ketika masa pertumbuhan datang menghampiriku. Tanpa sadar kepalaku pun sudah sangkut di pintu dan aku melihat kedua orangtuaku dengan menundukkan kepala. Bahkan para kakakku sempat syok dan mengatakan kalau aku mengalami gigantisme. -_-

Pada masa pertumbuhan itu, tepatnya saat aku masih SMP, benar-benar membuatku khawatir. Aku juga mulai lebih tinggi dari teman dekatku dan mulai melihatnya sambil sedikit menurunkan kepala juga. Pada wanita pun jadi hanya sepundakku. Semakin lama kekhawatiran itu berubah menjadi rasa takut akan ketinggian dan aku baru menyadari sekarang kalau itu ketakutan yang sungguh aneh, entah apa yang aku pikirkan pada saat itu, mengalami hal baru dalam hidup dan aku begitu shock.


Karena kekhawatiran konyolku akan tinggi badan itu, membuatku mulai membiasakan untuk menundukkan sedikit tubuhku agar tidak lebih tinggi ketimbang orang lain atau setidaknya orang-orang yang dekat denganku. Aku bersyukur dulu semasa SMP ada yang lebih tinggi dan besar ketimbang aku. Jadi setiap berada di sebelahnya, dalam hati aku berkata, "Oh, thanks God!" dan merasa begitu lega dengan tidak wajar.

Sering banget dulu mendapatkan omelan dari orang terdekatku, "coba gak usah bungkuk!" Kebiasaan membungkukkan badanku semakin menjadi hobi yang tren karena masa SMP dulu sedang hits banget anime Death Note yang dimana salah satunya karakternya bungkuk. Berhubung jaman SMP itu jaman masih menjadi hipster, jadi apapun yang disukai kemudian diikutin. Jadi dulu kalau bungkuk terasa keren gitu. Kalau mengingat itu benar-benar membuatku mengeluarkan suara, "HA HA HA".

Namun berbeda dengan dulu, sekarang aku bersyukur sudah diberikan tinggi badan yang melukai kepalaku di pintu ini. Karena ternyata banyak juga keuntungannya jadi tinggi, khususnya di tengah keramaian saat ingin melihat sesuatu, lalu aku tinggal jinjit sedikit dan aku bisa melihat apa yang orang lain juga lihat. Dengan tinggi badan yang segini juga aku jadi bisa membantu ortuku untuk mengganti bohlam dengan mudah.

Setiap kelebihan pasti ada kekurangan, begitu kan hukumnya? Ya begitu juga mempunyai tinggi badan yang lewat tinggi tidak selalu enak. Salah satunya sudah aku sebutkan di atas mungkin, kepalaku sering nyangkut kalau lewat di pintu. Kemudian masalah lainnya adalah aku jadi sulit menemukan pasangan hidup yang tingginya bisa setidaknya mencapai pundakku. Berhubung tinggi rata-rata wanita Indonesia 150-160 cm. Masalah ini sempat membuatku berpikir mungkin sebaiknya aku cari istri dari Rusia. Harus bikin paspor dari sekarang nih. XD

Semasa SMA juga tinggi badanku jadi masalah, karena saat baris upacara kepalaku jadi pasti nongol di tengah barisan. Berhubung aku bukanlah orang yang suka nampak di publik hal itu sangat memalukan. Apalagi kalau pembina mencari kambing hitam, aku jadi mendapat kemungkinan untuk dilihat lebih awal.

Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri maka aku menulis ini, namun hanya ingin memberikan hikmah dari cerita tinggi badanku ini, kalau kita harus mensyukuri dengan apa yang sudah diberikan kepada kita. Mungkin tidak selalu hal baik, tapi meskipun buruk sekalipun pasti juga memiliki nilai positif dan selalu ada pelajaran yang bisa diambil, bagi mereka yang berpikir tentunya.

Itu aja deh cerita tentang tinggiku, sebaiknya aku hentikan sebelum ada yang terluka lebih jauh. Btw, orang-orang sekarang jadi begitu serius dan gampang marah. Mungkin ini efek perekonomian Indonesia yang gonjang ganjing. Why so serious~ take it easy and enjoy the day.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar