Anime Review : Isshuunkan Friends (One Week Friends)


ULTIMATE FRIEND ZONE! Itu kata-kata yang tidak bisa aku tahan sesaat setelah selesai menyaksikan ending anime ini dengan penuh rasa kecewa dan sebuah senyuman aneh di wajah. Ehem. Jadi spoiler duluan nih.

Aku baru saja menyelesaikan menyaksikan satu anime ini, judulnya adalah Isshuukan Friends atau kalau dalam versi British-nya tuh One Week Friends (sambil ngomong ala Russell Brand). Animenya diangkat dari komik karangan mba Matcha Hazuki dengan judul yang sama (Isshuukan Furenzu). Kalau di manga, serial ini dibukukan ampe 7 volume, sedangkan untuk animenya ampe 12 episode aja. Animenya tayang pertama kali pada 6 April 2014 dan tamat pada tanggal 22 September 2014 lalu, udah lamaaaa. Dan aku baru mengetahui anime ini beberapa minggu lalu. Sungguh terlambat. Banyak mengatakan juga kalau anime ini sebenarnya bagus, cuman kurang terangkat aja. Tapi sekarang aku tau kenapa kurang terangkat (sinis sampe mata kaya orang... ehem, rasis).

Ceritanya tentang Kaori Fujimiya, seorang gadis SMA (yang nampak) biasa, manis dan wajah muramnya. Kemudian ada Yuki Hase, teman sekelas Kaori yang merasa terganggu dengan kebiasaan Kaori, suka menyendiri.  Dengan diselimuti penuh dengan rasa penasaran, Yuki pun memberanikan diri untuk mengajak Kaori bicara untuk mengetahui sebenarnya ada apa dengan Kaori, apa yang salah sehingga dia suka sendiri ketimbang kongkow bareng temen-temen cewe yang lain di kelas.

Dengan penuh dedikasi tinggi dan rasa gak tau malu, akhirnya Yuki bisa mengubah Kaori yang awalnya ogah-ogahan bicara jadi mau bicara dengannya. Setelah cukup akrab (di minggu awal), Yuki merasa kalau tidak ada yang salah dengan Kaori, tapi masih timbul di dalam benaknya kenapa dia bisa jadi begitu dingin saat di kelas bahkan meminta Yuki untuk tidak menyapanya saat berada di dalam kelas. Namun keanehan terjadi saat minggu berikutnya mereka bertemu untuk bicara lagi... Kaori tidak lagi mengenali Yuki seperti minggu sebelumnya.

Yuki dan Kaori

Ternyata Kaori mengalami sebuah kondisi medis aneh yang membuatnya melupakan semua ingatan tentang teman dan hal itu rutin terjadi setiap hari Senin. Membuat Yuki mengerti kenapa Kaori tidak lagi mengenalinya saat bicara di hari Senin. Setelah mengerti itu Yuki pun menginginkan teman sekelas yang lain juga mengetahui keadaan Kaori itu dan jadi mengerti dirinya. Namun itu tidaklah mudah, mengingat itu adalah kondisi medis yang langka dan terdengar tidak masuk akal untuk sebagian besar orang (bahkan aku yang nonton).

Proses menerima 'pengakitnya' Kaori pun juga tidak mudah bagi Yuki karena harus makan hati dilupakan setiap minggunya, hingga akhirnya dia menyarankan agar Kaori menulis buku diari untuk dibaca di setiap Senin sebelum sekolah jadi dia ingat tentang Yuki. Cara itu cukup efektif pada awalnya, hingga di penghujung seri dibuat agak pedas dan menyakitkan dikit bagi Yuki.

Dengan proses yang penuh kesabaran dan dedikasi, akhirnya usaha Yuki membuahkan hasil, Kaori jadi bisa banyak berteman lagi. Yang pertama adalah sahabatnya Yuki yang mencoba kenal juga dengan Kaori, dia adalah Shogo Kiryu, seorang pria dingin misterius yang selalu bicara blak-blakan. Kemudian ada Saki Yamagishi, seorang gadis kecil imut yang juga memiliki masalah ingatan sama seperti Kaori. Hingga akhirnya sekelasan pun banyak yang ingin kenal Kaori, yah sekalian modus buat minta ajarin matematika juga, soalnya Kaori jago matematika.


Yuki, Kaori, Shogo dan Saki menjadi lebih dekat dan sudah mendekati tingkat sahabat. Mereka pun jadi sering menghabiskan waktu bersama bareng, seperti liburan bareng, jalan bareng, makan bareng, belajar bareng, dan banyak kegiatan bareng lainnya. Karena Yuki cenderung ke Kaori, Shogo dan Saki juga menjadi cenderung satu sama lain, berhubung mereka juga sudah sekelas saat masih SD.

Saki dan Shogo

Suasana jadi memanas ketika ada seorang anak pindahan bernama Hajime Kujo di kelas mereka. Dia adalah seorang pria keren populer yang ternyata adalah mantan kekasih Kaori semasa SD. Awalnya aku jadi begitu bersemangat dengan kehadiran si Kujo ini, aku jadi membayangkan akan menjadi seseru apa cerita. Tapi ternyata mengecewakan! Aku pikir akan ada perseteruan antar cowo memperebutkan Kaori gitu. Ternyata Kujo hanyalah cowo cemen yang terus saja mengatakan "aku tidak peduli dengannya (Kaori)" dengan penuh kemunafikan di dalam diri. CIH! Bahkan langsung mundur gitu aja saat mengetahui kalau Yuki lagi dekat sama Kaori. Benar-benar di luar harapan. Namun kehadiran Kujo ini memperjelas alasan mengapa Kaori bisa sampai kehilangan ingatannya saat kelas 6 SD.

Aku tidak bisa berhenti merasa kecewa jika ingin membahas anime ini. Padahal semuanya nampak bagus diawal, tapi cerita di akhir-akhirnya benar-benar mengecewakan. 12 episode aku habiskan waktu hanya untuk melihat ke-cemen-an Yuki, dan juga ada Kujo disaat terakhir. Aku kira ini akan menjadi sebuah anime romantis yang ceritanya tidak akan terlupakan gitu. Aku malah lebih senang menyaksikan kisahnya Shogo dan juga Saki yang so sweet banget mereka, pasangan yang saling melengkapi. Ketimbang kisah Yuki dan Kaori yang ingin menjadi teman selama sisa umur mereka, suram.

Salah satu yang membuatku bertahan nonton anime ini adalah karena soundtrack-nya yang bagus. Aku suka dengan lagu openingnya yang aku posting di song of the week sebelumnya. Ya,aku tidak bisa membohongi diriku kalau aku suka dengan semua soundtracknya. Lagu ending-nya juga, apalagi di albumnya, ada lagu Kanade (ending) versi Yuki yang nyanyi. Kalau yang aslinya kan dubber-nya Kaori yang nyanyi. Juga aku suka dengan kisah persahabatan antara Yuki dan Shogo yang mengingatkanku dengan kisah bersama sahabatku, mirip sekali, bahkan pilihan wanitanya pun sama. HAHA

Secara keseluruhan, yah harus aku akui aku suka bagaimana mereka semua memaknai sebuah pertemanan dengan cara yang berbeda. Banyak pesan persahabatan dan bagaimana mengerti perasaan seorang teman di anime ini. Melihat pertemanan di antara mereka juga jadi terasa terinspirasi gitu, kalau dalam pertemanan terkadang kita tidak boleh menyerah begitu saja. Karakter Yuki di sini juga bagus untuk menjadi percontohan seorang cowo yang gak pantas diikutin karena sifat cemennya yang akut.

Baiklah, aku semakin emosi saat membahasnya lebih lanjut. HAHA

Tapi anime ini menarik, yang salah cuma bagian ending-nya sih menurutku. Namun sesuai sih sama judulnya. Tapi menurutku anime ini seharusnya berjudul One Week ULTIMATE Friend-ZONE. Sekian dulu untuk anime review kali ini.


Cheerio!

9 komentar:

  1. Saya udah review ini nggak lama setelah animenya tamat, dan juga sampe pada kesimpulan yang sama: endingnya lemah.

    Tp kayaknya ending manganya beda dari anime sih, soalnya manganya abis 6 bulan kemudian setelah animenya kelar

    BalasHapus
    Balasan
    1. berarti dalam hal ini kita sepakat. hehe
      oh, aku belum ada mencari referensi review di manga sejauh ini, jadi pengen baca manga-nya meskipun sekarang sudah kecewa.

      Hapus
    2. Well, akhirnya ada juga waktu buat maraton baca manganya (http://bato.to/comic/_/comics/one-week-friends-r8056/).

      Dan ternyata... ya gitu lah XD
      Didn't have a big impact, tapi buat saya sedikit lebih bagus dr animenya.

      Hapus
    3. nice inpoh, bro.. tapi aku sudah terlanjur kecewa sama animenya, jadi kurang tertarik lagi dengan manganya. haha karena menurutku ceritanya juga bakalan sinetron-sonetron Indonesia gituh, muter-muter aja.

      Hapus
  2. ini juga anime endingnya malah gak jadi pacaran -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah mengapa aku menggelari anime ini sebagai anime ultimate friendzone. :D

      Hapus
  3. udah download anime ini seminggu yg lalu, krn baca review jd ragu mau nnton...wkwkw
    lagu opening ama endingnya benar enak vroh,

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. aku pun menyaksikan anime ini karena alasan soundtracknya enak. :D

      Hapus
    2. salut vroh lu berani baca review dulu baru nonton :)

      Hapus