Makna di Balik Operator Seluler


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh~
Asekk. Jangan pikir ini adalah tulisan islami mengingat diawali dengan doa. hahahaha It's another tulisan gak jelas yang mungkin akan membuat kalian gila sesaat ketika mencoba memahami alurnya diikuti dengan rasa sesal tiada tara. Jadi kalau membaca tulisan ini, dibaca aja, gak usah dihayati amat. HAHA

Ehem. Di malam yang sesunyi ini... aku sendiri, tiada yang menemani ♪ (plakk, apaan). Ya malam ini memang cukup sunyi, mungkin karena sekarang sudah memang memasuki waktu tidur manusia normal, mengingat aku abnormal, tidak heran mataku masih melek banget sekarang dan mungkin sampai adzan shubuh nanti. (Mungkin aku harus periksa kejiwaan kali yak?)

Kalian tau, terkadang aku percaya.. eh, kayanya bukan aku aja sih, sebagian besar manusia (yang punya agama, agama yang cuman di KTP doang gak termasuk di dalamnya) pastinya percaya kalau semua yang terjadi di dunia ini karena sebuah alasan dari Yang Maha Kuasa. Ya kan? Bahkan hal-hal kecil yang terjadi di masa sekarang maupun di masa lalu, bisa saja menjadi faktor perubahan besar di masa yang akan datang. Tidak terkecuali pemilihan kecil seperti pilihan operator seluler yang akan digunakan untuk HP kita.


Meskipun kadang kita memilih operator karena berbagai fitur yang dimiliki dan juga mempertimbangkan biaya yang digunakan, tapi tentunya ada serpihan takdir di sana, aku percaya itu. Seperti yang terjadi padaku, aku menggunakan operator seluler Indos*t untuk HP Androidku dan Tr* untuk modem.

Awal aku memilih operator untuk HPku adalah sekitar 6 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2009. Operator terlama yang pernah aku gunakan semasa hidupku. Nomor yang sudah terisi dengan jutaan kenangan di dalamnya sehingga rasanya tidak rela untuk ditinggalkan. Meskipun pada awal menggunakan HP, operator yang aku gunakan adalah Telk*msel namun dengan alasan kantong akhirnya aku memutuskan beralih pada Indos*t. Semasa jaman dahulu, Indos*t dipenuhi dengan fitur yang menurutku waktu itu sangat menyelamatkan kantongku dari kebocoran.

Berawal dari alasan ingin menyelamatkan kantong itu, ternyata kemudian setelah penggunaannya, ternyata ada makna dibalik itu semua. Yap, aku baru menyadarinya beberapa hari lalu ketika tidak ada kegiatan dan memikirkan tentang ini secara seksama dan dalam tempo yang tidak singkat-singkat amat (2 hari). Tanpa aku sadari selama ini aku menggunakan operator Indos*t, aku diajarkan dengan rasa sabar. Iya, rasa sabar. Seperti yang kalian mungkin tahu, kalau jaringan Indos*t itu angin-anginan banget, kadang kalau bagus, bagus banget, tapi kalau lagi kena jeleknya, jaringan benar-benar hilang. Hal semacam itu memuakkan, khususnya di dalam keadaan yang genting, seperti misalnya ingin mengumpulkan tugas melalui email atau apa, semua jadi kacau karena jaringan yang masuk angin.

Tanpa kesabaran yang ekstra, tidak akan banyak orang yang bertahan menggunakan Indos*t, khususnya untuk para penggunakan seluler di Kalimantan Timur sih menurutku. Karena kalau di Jawa jaringan Indos*t tidak seburuk di Kalimantan. Jadi menurutku, orang yang bisa tahan menggunakan Indos*t selama bertahun-tahun itu adalah orang-orang yang telah terlatih rasa sabarnya, mungkin kalau rasa sabar itu adalah otot, orang yang bertahan pakai Indos*t itu adalah orang-orang yang badannya mirip Ade Rai gitu (serem ya analoginya, bayangin aja ada cewe kaya Ade Rai?? Hiiii Ok gak usah dibayangin).

Selain rasa sabar, pelajaran lain yang bisa diambil dari menggunakan Indos*t adalah berhemat. Ya, seperti alasan awal aku memilih operator ini  karena ingin berhemat. Satu hal yang aku suka banget dari Indos*t adalah paket SMS-nya yang berumur panjang, sesuai dengan masa aktif kartu. Fitur satu ini sudah menyelamatkanku dari kemiskinan dan labil ekonomi semenjak 4 tahun yang lalu. Paket SMS seperti ini membuatku jadi hemat, meskipun sering kali dapat keluhan dari teman-teman yang suka menelponku dengan mahal kemudian hanya aku balas menggunakan SMS. Dari hematnya itu, kan bagus tuh untuk memenuhi kebutuhan yang lain atau jika ingin lebih baik lagi, kelebihan itu bisa disedekahkan agar barokah. MasyaAllah.

Pelajaran terakhir yang bisa aku dapaktkan dari menggunakan Indos*t adalah penghargaan terhadap waktu. Iya, benar. Kenapa? Begini, seperti yang aku tulis di atas tadi, di alasan pertama, kalau jaringan Indos*t itu angin-anginan. Sebenarnya bisa diambil hikmah disitu, menurutku tidak buruk juga sih jaringan yang tidak selalu bagus, karena bisa mengurangi kecenderungan terhadap penggunaan gadget dan lebih menghargai waktu ketimbang hanya banyak menghabiskan waktu di depan gadget. Seperti yang biasa aku alami, saat jaringan menjadi begitu buruk, aku jadi merasa punya banyak sekali waktu luang, membuat sadar, ternyata banyak sekali waktu sia-sia yang aku habiskan hanya dengan melototin layar HP. Akan lebih bagus lagi, jika sambil menunggu jaringan yang buruk itu, lalu dihabiskan dengan kegiatan-kegiatan yang positif seperti belajar, pengembangan diri atau yang lebih barokah lagi waktunya dipakai untuk ibadah. MasyaAllah (lagi).

Jadi jaringan bagus juga tidak sepenuhnya bagus, sama seperti teknologi, semakin bagus bukan berarti bagus juga, tergantung yang menggunakan. Tapi semakin bagusnya teknologi cenderung membuat penggunanya jadi lalai karena terlalu enak menikmati kelebihan tersebut.

Setelah mendapatkan 3 pelajaran itu, kemudian rasanya aku terlempar jauh dalam kesadaran (sampai terputar-putar salto gitu, tapi dalam pikiran), kalau ada serpihan takdir di sana. Akhirnya sesuatu yang aku pilih bisa mengubahku pribadiku di masa depan, bukan sebuah kebetulan dan bukan tanpa alasan.

Selain ada pelajaran di dalamnya, operator seluler juga menurutku menjadi gambaran karakter dari sang penggunanya. Tapi ini tidak begitu akurat sih. Aku mencoba mengamatinya pada beberapa orang, tapi hanya beberapa saja yang tepat seperti teoriku ini. Yang merusak teori ini adalah sifat manusia yang terkadang suka ikutan dengan tren yang sedang meledak di lingkungannya.

Dari tadi aku hanya membahas tentang Indos*t ya? HAHA Ya, cuma operator itu yang aku gunakan untuk waktu yang lama, aku tidak bisa begitu banyak menilai operator lain yang tidak aku gunakan, namun mungkin beberapa merupakan kebalikan dari Indos*t dan juga mungkin mirip. Aku tidak bisa menilai sesuatu yang tidak aku miliki dengan hanya melihat luarnya, iya kan? Namun intinya, saat ada kelebihan, tentunya akan dibarengi dengan kekurangan, begitupun sebaliknya. Sudah bukan rahasia lagi ada plus dan minus dari sesuatu, ada kutub positif dan ada kutub negatif, itu keseimbangan dan keindahan.

Baiklah, diakhir tulisan ini aku ingin mengatakan kalau tulisan ini bukan bentuk sarkasme yang sengaja aku buat, tapi benar-benar murni niatnya mengambil pelajaran di dalamnya. Jika ada yang tersinggung atau tidak berkenan, saya mohon maaf.

Intinya, jangan memandang sesuatu dengan terlalu negatif dan kemudian mengabaikan pelajaran yang bisa dipetik di dalamnya. Dunia mengajarkan banyak hal kepada siapa saja yang peka terhadap sekitarnya. Banyaklah mendengarkan, banyaklah memperhatikan, kurangi bicara, banyak bertindak dan banyak belajar, kalian tidak akan pernah rugi!

Sekian dulu deh. Sampai jumpa lagi di postingan tidak jelas lainnya!

Bye bye~

Oh iya, diawali dengan salam dan doa yang baik, maka aku juga akan akhiri postingan ini dengan...

Wassalamu'alikum warahmatullahi wabarakatuh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar