Anime Review: Tenki no Ko (Weathering With You)


Selamat libur semua!

Bagaimana dengan WFH kalian? Beberapa orang mungkin sudah bosan banget di rumah sekarang ini. Tapi bagi introvert sepertiku rasanya tiada beda dengan biasanya—justru aku menikmati saat-saat bekerja dari rumah seperti ini. Mungkin ini karena dari dulu kerjaan aku memang selalu di rumah aja. 

Oke, sekarang kita kembali ke topik pembahasan kita hari ini, yaitu anime review! Aku bisa mengatakan, kalau akhirnya aku menyaksikannya—setelah penantian panjang selama ini. Yang menurutku cukup drama sih dulu mau menyaksikan anime ini, mengingat kala itu belum ada CGV di Kota Samarinda—tempat aku tinggal—yang mana hanya CGV yang kala itu menayangkan filmnya, sedih. Film itu adalah Tenki no Ko atau kalau dalam bahasa Inggris judulnya Weathering With You. Karya Makoto Shinkai terbaru yang tentu dinantikan banyak orang. Aku mungkin aja terlambat menulis ini—mengingat filmnya juga sudah keluar dari tahun lalu. Tapi tidak apa—tidak akan pernah terlambat untuk membahasnya di blog ini.

Weathering With You ini ditayangkan perdana pada 19 Juli 2019. Satu lagi karya dari bapak Makoto Shinkai yang tersohor karena gaya animenya yang begitu menggugah dan menyentuh jiwa. Luar biasa sih—setiap menyaksikan anime karyanya itu seperti melihat dunia ini penuh dengan keajaiban bahkan dengan detail kecil yang menghiasinya. Penggunaan warna dan efek yang begitu khas membuat setiap karyanya selalu dinantikan oleh penikmat anime, tidak terkecuali Wathering With You atau Tenki no Ko ini. Aku sudah jatuh cinta dengan karya Makoto Shinkai semenjak menyaksikan 5 cm per Second—anime karya Makoto Shinkai yang pertama aku saksikan—kemudian ada Hoshi Wo Ou Kodomo yang awalnya aku tidak tahu kalau ternyata juga karya Makoto sensei dan semakin cinta lagi setelah menyaksikan Kotonoha no Niwa.


Jadi Tenki no Ko ini bercerita tentang Hodaka Morishima, seorang anak SMA yang kabur dari kampung halamannya menuju ke Tokyo untuk mencari kehidupan yang lebih baik—terlepas dari kekangan orangtuanya—tidak terlalu banyak diceritakan sih bagaimana kehidupannya waktu di desa, awalnya aku berpikir mendekati akhir akan diceritakan, tapi ternyata hanya dibahas sekilas-sekilas. Mungkin kalau ini anime series baru diceritakan kali ya. Dalam perjalanannya ke Tokyo, Hodaka bertemu dengan Keisuke Suga yang kemudian memberikannya pekerjaan di Tokyo sebagai penulis hal-hal mistis di kota Tokyo. Dari pekerjaan baru ini lah yang mengantarkannya bertemu dengan Hina Amano (bukan makhluk yang hina kok wkwk), alias “gadis cuaca” atau kalau aku tidak salah mendengar terjemahan untuk gelarnya itu “wanita musim semi” (春の女~haru no onna~). Jadi si Hina ini bisa mengendalikan cuaca—berhubung Tokyo beberapa bulan terakhir selalu hujan, maka banyak yang menggunakan jasa Hina untuk memberikan cerah meskipun hanya titik kecil dan singkat di kota Tokyo. Hal itu dimanfaatkan Hodaka untuk berbisnis. Tapi di sinilah kemudian masalahnya terjadi—saat Hodaka akhirnya tahu tentang takdir menyedihkan yang menunggu Hina karena kemampuannya tersebut. Dapatkah mereka menghadapinya bersama? Kalian bisa saksikan aja sendiri.



Awal menyaksikan anime ini—yang memperlihatkan keras dan jahatnya kehidupan di Kota Tokyo, membuatku meragukan ini akan menjadi anime yang lembut dan aku berpikir mungkin setelah sekian lama akhirnya Makoto sensei mau menyajikan kisah aksi. Tapi ternyata dugaanku salah dan terjadi lagi—aku meneteskan air mata karena menyaksikan karya Makoto sensei. Benar-benar cerita yang membuat perasaan turun dan naik. Film ini tuh selain menyajikan kisah cinta yang manis—juga menyajikan ketegangan. Sudah lama sih semenjak anime Hoshi wo Ou Kodomo dan di anime ini bisa melihat aksi di karya Makoto sensei lagi. Sangat di luar dugaanku. Karena aku menilai awalnya dari trailernya, kemudian beberapa menit awal film aku menilai kembali dan penilaian berubah lagi saat ending. Pokoknya ambyar dah anime ini!

Ada cameo yang muncul di tengah anime ini—lucu sih—karena aku butuh waktu lama untuk menyadari kalau itu adalah Mitsuha Miyamizu dan Taki Tachibana dari anime Kimi no Nawa. Versi mereka saat sudah dewasa dan mungkin sebelum mereka bertemu di tangga—adegan ikonik dari anime Kimi no Nawa. Aku jadi berpikir, mungkinkah ini adalah awal dari Makoto Shinkai Universe (MSU)? Cerita anime Tenki no Ko ini juga latarnya adalah di kota Tokyo, sama seperti Kimi no Nawa juga dan 5 cm per Second. Mungkin karena Makoto Shinkai memang tinggal di Tokyo maka ceritanya pun tidak jauh-jauh dari kota Tokyo. Atau mungkin karena target pasarnya adalah dunia maka dia memilih latar yang paling familiar untuk semua orang di dunia. Mungkin—siapa yang tau?



Secara grafik anime ini sudah jangan ditanyakan lagi ya kan. Jadi mari membahas soundtrack-nya aja. Menurutku cukup banyak sih lagu yang digunakan. Tidak seperti 5 cm per Second atau Kotonoha no Niwa yang memakai hanya 1 soundtrack—kali ini cukup banyak soundtrack yang digunakan. Aku merasa seperti menyaksikan anime series selama beberapa musim gitu yang disingkat jadi 1 film singkat—karena banyaknya soundtrack yang dipakai. Secara pribadi sih tidak ada lagunya yang nyantol di hati—tapi sudah pas aja lagunya sama suasananya.

Menurutku yang unik adalah Makoto Shinkai memakai aplikasi Toon Boom Storyboard Pro untuk membuat anime ini. Toon boom Animation adalah vendor aplikasi grafis asal Kanada. Aku pikir karena biasanya Jepang menggunakan semua produk dalam negeri, tapi kali ini Makoto sensei tidak. Aplikasinya memang keren sih, jadi aku sekarang jadi tidak heran kalau Makoto sensei bisa membuat sebuah animasi yang begitu apik dengan sudut pandang yang blow your mind.

Secara rating, Tenki no Ko masih kalah dari karya Makoto sensei sebelumnya—Kimi no Nawa. Di situs IMDB, Tenki no Ko dapat skor 7,6/10 sedangkan Kimi no Nawa dapat skor 8,4/10. Dan di situ Rotten Tomatoes, Tenki no Ko dapat skor 7,38/10 sedang Kimi no Nawa dapat skor 8,22/10. Mungkin Kimi no Nawa memang karya terbaik dari Makoto sensei sejauh ini. Kalau aku pribadi sih tentunya lebih suka Byosoku 5 cm.

Sekian dulu review anime kali ini. Untuk kalian yang juga sudah menyaksikan anime ini, bisa dong tuliskan bagaimana pendapat kalian di kolom komentar. Kalau aku pribadi sih melihat anime ini sebagai ketegangan baru yang sedih (gimana sih). Jantung berdebar excited saat adegan aksi dan kemudian air mata mengalir di adegan sedihnya. Campur aduk. Jadi aku sarankan banget kalian untuk nonton anime satu ini.

Semoga review ini bermanfaat, sampai jumpa lagi di review berikutnya! Cheerio!

Komentar

  1. karena bebeberapa minggu lalu selesai nontonnya menurut ulun sih bagus dan ngena di film yang ini (personal) dr pada your name... secara visual 5 jempol buat om Makoto :) setiap anime dia yang pernah ulun tonton 5cm persecond, the garden of words, Your Name, Wheatering With You selalu memanjakan mata... mantap reviewnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Hype Abis

Anime Review: Golden Time

Anime Review: Shigatsu wa Kimi no Uso

Anime Review: Orange