Anime Review (Movie): Sora no Aosa o Shiru Hito yo (Her Blue Sky)


Halo semua! Sudah memasuki hari Ahad lagi nih, saatnya kita review anime lagi ya. Aku terkejut sih mengetahui anime ini, karena poster pertama yang aku temukan adalah gambar Jembatan Kyu Chichibu-hashi yang termansyur. Melihat itu ingatan langsung mengarah ke Anohana. Aku pun langsung mencari informasi dan ternyata benar, kedua anime ini dikerjakan oleh orang-orang yang sama, khususnya mba Mari Okada. Penulis cerita terkenal yang sukses dengan karyanya Anohana dan The Anthem of the Heart. Luar biasa sih mba Okada ini, terlebih setelah aku menyaksikan film auto-biografi-nya yang berjudul Gakkou He Ikenakatta Watashi Ga (Anohana) (Kokosake) Wo Kaku Made. Di situ dia menyamarkan namanya menjadi Atsuko Maeda, jadi jangan bingung seperti aku ketika menyaksikan film itu dan namanya bukan Mari Okada.

Anime movie yang tayang perdana pada tanggal 11 Oktober 2019 ini, menyajikan sebuah cerita fantasi yang menggugah jiwa, tidak kalah dengan karya Mari Okada lainnya—berjudul Sora no Aosa o Shiru Hito yo (Her Blue Sky). Film yang berdurasi 108 menit ini diproduksi oleh CloverWorks.

Bercerita tentang Shinnosuke Kanamuro yang gagal untuk move on setelah ditolak oleh Akane Aioi dan meninggalkan jiwa mudanya di sebuah gubuk tua tempat mereka biasa latihan band. Adik Akane—Aoi Aioi—yang juga sering ikut kakaknya datang ke tempat latihan, berimpian untuk menjadi seorang bassist di band yang sama dengan Shinnosuke. Jadi film ini bercerita tentang jiwa masa lalu Shinnosuke dan Shinnosuke yang sudah versi dewasa, terpisah menjadi 2 pribadi yang berbeda. Cerita yang cukup unik dan menarik untuk disaksikan.

Banyak pelajaran hidup yang didapatkan dari anime ini, khususnya berhubungan dengan menjadi dewasa serta bagaimana tindakan yang harus diambil ketika impian serasa jauh dari genggaman. Aku sebagai orang yang bisa dikatakan juga baru merasakan dunia dewasa, merasakan bagaimana impact anime ini terhadap diri. Seru sih menyaksikan anime dengan pesan dalam seperti ini. Meskipun kesannya sederhana dan receh, tapi jika bisa mengambil hikmah, maka ini menjadi lebih dari sebuan film animasi biasa. Aku rasa itu juga salah satu spesialis dari karya-karyanya orang Jepang, memberikan makna dalam kepada penontonnya, begitu emosional.

Kalau kalian yang sudah menyaksikan The Anthem of the Heart, pastinya sudah tidak asing sekali menyaksikan anime ini dalam segi grafis, karena bisa dikatakan dikerjakan oleh studio yang sama walaupun beda nama. Aku baru sadar kalau aku belum pernah menulis review tentang The Anthem of the Heart. 😂 Parah, padahal sudah lama sekali itu anime. Tapi kalian sudah pernah menyaksikannya kan? Kalau belum, wah kalian parah juga sih, soalnya itu animenya rame gila. Mungkin itu akan jadi jadwal tulisku berikutnya. Semoga aku tidak lupa.

Untuk musiknya kurang berkesan sih di aku. Aku rasa kalau dub Shinnosuka diisi sama Motohiro Hata pasti keren. 😂 Cuma mungkin bukan suara bernyanyi yang dicari untuk Shinnosuke, tapi suara semangat. Karena ceritanya di sini kan Shinnosuke itu seorang musisi, tapi suaranya nge-pas banget. Pembelaannya mungkin karena dia seorang gitaris, makanya jarang menyanyi pasti.

Anime ini mendapatkan skor 6,7/10 dari IMDB—cukup rendah jika dibandingkan dengan The Anthem of the Heart yang mendapatkan skor 7,4/10 dari IMDB. Kalau aku lihat sih wajar, karena ceritanya mungkin untuk sebagian besar orang kurang seru dan berkesan. Apa karena ceritanya terlalu berlebihan atau karakternya yang kurang kuat, atau malah karena keduanya. Mungkin. Bagaimana pendapat kalian? Kalau menurutku sih karena ceritanya memang terkesan lebai—yah meskipun wajar mengingat ini adalah anime fantasi. Tapi sesi fantasinya itu yang membuat ceritanya jadi aneh pas mendekati akhir.

Itu aja deh untuk review kali ini. Aku harap bisa mendengarkan pendapat kalian juga yang sudah menyaksikan anime ini. Tulis di kolom komentar ya. 😉

Maaf jika ada salah kata. Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Sampai jumpa!

Cheerio!

Komentar

Hype Abis

Anime Review: Golden Time

Anime Review: Orange

Movie Review: 5 Centimeters Per Second